Freiburg im Breisgau – Hikmah dan Petuah Perjalanan

oleh Fitrian Muhammad Oddang, Etoser Bandung 2010, Teknik Metalurgi ITB 2010

 

Beberapa hari belakangan saya sudah beberapa kali kecolongan ga sholat subuh di masjid sebelah asrama, Al-Fathonah tercinta. Sedih rasanya, kalau kata Akfi mah KECEWALAH. Saya tidak mau mencari-cari alasan atau bahkan mencari sebuah pembenaran atas kelalaian saya ini, karena hidup ini bukan untuk diisi oleh pencarian sejuta pembenaran atas problematika yang terjadi. Kelalaian tersebut mengingatkan pada suatu momen sewaktu saya sedang home stay di Jerman dalam rangka pertukaran pelajar 2 tahun yang lalu, tepatnya ketika saya mengunjungi Islamische Zentrum (Islamic Center) di kota dimana saya tinggal selama berada di Jerman, Freiburg Stadt.

Sebelum berangkat ke nukleus dari kisah ini ada baiknya kalau saya sedikit bercerita terlebih dahulu sekilas tentang keindahan dan keunikan kota Freiburg ini🙂. Freiburg im Breisgau, begitulah slogan kota klasik ini. Kota ini juga sering dijuluki sebagai Schwarzwald Stadt (Kota Balck Forest) karena Freiburg berana di kaki pegunungan yang penuh dengan hutan homogen. Saya kurang tau apa nama pohonnya, yang jelas bila kita melihat barisan pegunungan ini maka bukan warna hjau yang nampak melainkan warna hijau kehitaman. Kesannya agak horor sish tapi kalau melihatnya secara langsung pasti teman-teman akan kagum juga melihatnya walaupun saya sendiri ga bisa ;ihat secara langsung karena kondisi sedang winter selama saya disana hehe. Namun, berdasarkan foto-foto yang saya lihat di Jugend Herberge (kata orang Indonesia mah asrama) memang benar kalau pegunungan yang tertutup oleh hutan homogen itu terlihat hitam warnanya.

Selain unik karena Schwarzwald-nya Freiburg juga terkenal karena nuansa klasik yang berpadu dengan nuansa modern. Yup kota ini tetap mempertahankan nuansa klasik tahun 1700-an yang dipadukan dengan fasilitas-fasilitas kota yang full of technology. Kalau saya boleh tulis dalam persentase maka 70% klasik dan 30% modern, kalau suatu hari teman-teman sempat berkunjung ke Freiburg maka teman-teman akan merasa seperti berada di zaman reisance dengan nuansa modern yang tetap kental. Nuansa klasik kota ini diwakili oleh banyaknya banguna-bangunan klasik yang banyak digunakan sebagai pusat pemerintahan kota dan pusat-pusat perbelanjaan. Oiya disini juga ada pasar tradisionalnya looh, dan kerennya pasar tradisional ini terletak di pusat kota dengan kondisi pasar yang sangat bersih, tertib, dan teratur (beda banget deh sama pasar tradisional di Indonesia) Freiburg juga memeiliki maskot yang menjadi simbol klasiknya sendiri, yaitu Munster. Munster merupakan gereja tertua dan termegah di kota tersebut. gereja ini mulai didirikan pada tahun 1600an dan baru selesai sekitar tahun 1700an. Munster merupakan bangunan tertinggi di kota ini, saya sendiri pernah berkunjung dan masuk kesana. Meskipun sudah sangat tua gereja ini masih terlihat sangat kokoh dan terawat, ornamen-ornamen yang menghias gereja ini juga oke banget terutama ornamen jendela-jendela besar yang bercerita tentang pembangunan  gereja dan kerajaan Freiburg dari masa ke masa. Saya sih melihat gereja ini lebih mirip museum karena di dalamnya banyak sekali aset-aset sejarah milik kerajaan Freiburg jaman dahulu kala. Meskipun mirip museum dan banyak sudut-sudut kerennya, tetep aja gereja ini agak bernuansa horor menurut saya hahaha.

Banyak hal-hal keren yang membuat saya kagum selama saya berada di kota ini, sungainya kota yang airnya super bening sampai dasar sungainya bisa kelihatan, jalan-jalan yang bersih tanpa ada sampah secuilpun, tata kota yang strategis, lalu lintas yang super duper tertib dan masih banyak lagi. Berbicara tentang lalu lintas, ada hal yang membuat saya begitu kagum dengan negara ini. Jadi Jerman merupakan salah satu negara yang tingkat ketertiban lalu lintasnya sangat tinggi di dunia, lalu lintas selalu lancar dan tidak ada macet disini. Selain itu, ada istilah  bahwa “Pejalan kaki adalah raja di jalan”. Ketika kita mau menyebrang jalan, baru saja kita berdiri di tepi zebra cross maka dari jarak 100 meter jauhnya kendaraan-kendaraan sudah memperlambat jalannya dan tepat berhenti di dekat zebra cross sambil menunggu dan mempersilahkan pejalan kaki untuk menyebrang. Uniknya lagi para pengendara juga tidak pernah meng-klakson apabila pejalan kakinya menyebrang dengan durasi yang lama, keren kan (y)

Ohya, fasilitas umum seperti toilet bahkan membuat saya semakin jatuh hati dengan negerinya om Hitler ini. Toilet di Jerman menganut sistem toilet kering, bukan berarti ga ada airnya loh ya haha. Maksudnya toilet kering adalah toilet-toilet disini didesain untuk selalu kering sehingga kebersihannya tetap terjaga dan nyaman. Ga ada ceritanya disini toilet bau pesing dan kotor, budaya bersih dan tertib memang sepertinya sudah menjadi karakter dari mayoritas penduduk negara ini ya. Hebatnya lagi, teman-teman sekalian bisa minum di toilet manapun di negara ini hahaha. Jerman memiliki sistem air bersih terintegrasi yang di suplai ke seluruh rumah, gedung, dan fasilitas umum yang ada sehingga airnya aman untuk langsung diminum. Bahkan saya bisa seduh kopi sambil mandi disini (y). Pokonya aman deh kalau jalan-jalan disini, ga perlu takut kehausan, kalau haus cari aja toilet haha :p

Freiburg juga memiliki stadion sepak bola yang terkenal loooh. Stadion ini terletak persis diseberang sungai belakang Jugend Herberge. Namanya adalah Badenova Stadion, stadion ini merupakan stadion milik Freiburg SC yang merupakan salah satu tim sepak bola di Bundes Liga. Stadion ini sering digunakan ketika Liga Champion ataupun untuk pertandingan-pertandingan persahabatan internasional. Saya ingat sekali tim favorit saya, The Oranje (Belanda)  pernah menghajar Hungaria dengan score 6-1 di stadion ini di tahun 2010 pada kualifikasi Piala Dunia 2010 hahaha. Stadion ini juga memiliki cerita unik tersendiri untuk saya, eng ing eeeeeng saya pernah menonton salah satu pertandingan Bundes Liga disini looooh😀. Saya pernah menyaksikan pertandingan antara Stuttgart vs Freiburg SC, ketika itu Sami Khedira (gelandang der Panzer) masih bermain di Stuttgart sebelum akhirnya pindah ke Real Madrid. Saya menghabiskan 85 euro untuk membeli 1 tiket pertandingan tersebut, kalau di konversi ke rupiah ketika itu kira-kira harganya tiketnya sekitar 1,2 juta dan itu adalah uang saku saya untuk satu minggu -___-.

Pertandingan berlangsung malam hari, malam itu pertandingan berjalan sangat sengit dan seru. Saya mendukung Freiburg ketika itu,tapi ternyata saya salah memilih tribun. Saya duduk di tribun suporter dari Stuttgart, ketika Freiburg SC mencetak gol tanpa sadar saya langsung lompat-lompat sambil berteriak-teriak. Seketika itu juga saya langsung menjadi pusat perhatian masa suporter Stuttgart yang memandang sinis ke saya, alhamdulillah saya tidak dihajar masa ketika itu haha. Semakin malam semakin dingin udara di stadion ini, ya ini sedang musim salju tentu sangat dingin udara malamnya. Menjelang paruh babak kedua saya mulai kedinginan, sangat sangat kedinginan sampai sampai saya ga bisa merasakan ujung jempol saya dan gabisa bicara karena bibir saya benar-benar sudah kaku. Sumpah saya gabisa ngomong ketika itu. Ketika saya menoleh ke running text di papan score, terlihat bahwa suhu menunjukkan minus 16 derajat. Pantes aja dinginnya ga ketulungan. Menjelang babak kedua berakhir saya tiba-tiba tak sadarkan diri (zooooonk) dan ketika bangun ternyata saya sudah berada di rumah sakit. Tillman (pendamping asrama) bilang kalau saya pingsan di stadion, kata dokternya sih karena kedinginan hahahaha :p. Malam itu menjadi malam yang ga akan pernah saya lupakan di Freiburg, pingsan di stadion sewaktu menonton Bundes Liga, dan malam itu juga adalah malam teridngin yang pernah saya rasakan di Freiburg.

Masih banyak lagi sebenarnya kisah-kisah seru dan menarik yang bisa diceritakan dari Freiburg ini, ah tapi ke cerita inti dulu aja kai ya heuheu :3. Lain kesempatan akan saya lanjutkan kisah-kisah seru, unik, dan menarik tentang Freiburg:). Kembali ke Islamisches Zentrum, jadi sewaktu saya berkunjung kesana itu rasanya seperti makan mie rebus tengah malem, beuuuuh enak banget hehe. Salah satu moment berharga selama saya berada di Freiburg salah satunya waktu berkunjung kesini. Disini berkumpul seluruh muslim dari penjuru Freiburg, kebanyakan sih muslim imigran yang berasal dari mesir, tunisia, dan aljazair tapi ada juga yang muslim asli Freiburg walau dikit bangeeet. Saya berkunjung kesini sore hari bersama teman-teman saya yang juga berasal  dari Indonesia, kita kesana  hari Jumat sore. Biasanya selalu ada kajian disini di Jumat sore, makanya kita sengaja datang kesana hari itu. Sambutannya luar biasa banget waktu kita berkunjung kesini, berasa ke rumah saudara sendiri. Disalamin, dipeluk, disuguhin makanan super banyak, mantap deh hehe. Saya sangat terharu ketika kami memperkenalkan diri sebelum kajian (halaqoh) dimulai, ketika saya mengatakan bahwa kami adalah siswa muslim dari Indonesia mereka semua langsung mengucap kalimat tasbih dan takbir secara serempak. Jelas kami bingung waktu itu, kemudian ustadz pemimpin halaqohnya bilang begini ke kami “Subhanallah, kalian berasal dari Indonesia. Negara dengan muslim terbanyak di dunia. Allahuakbar kami semua disini berharap Islam akan bangkit kembali dari negara kalian melaui pemuda-pemuda muslim seperti kalian” (kira-kira begitu bahasa Indonesianya setelah diterjemahkan dari bahasa Jerman).

Saya hampir menangis ketika mendengar kalimat itu, saya merasa sangat bangga menjadi seorang muslim yang dilahirkan di Indonesia dan mungkin seperti itulah harapan saudara-saudara muslim kita di belahan bumi yang lain. Mereka mengharapkan bahwa Islam akan bangkit kembali sesuai fitrahnya dari Indonesia ini. Terharu banget deh pokonya. Allahuakbar :’). Salah satu yang mebuat saya sangat bangga juga adalah ketika saya diminta untuk tilawah sebagai pembuka halaqoh sore itu. Waaaaaaah benar-benar best moment lah, ga kebeli dah apa yang ane rasain ketika itu :’)Setelah halaqohnya selesai, saya sempat berbincang-bincang denan salah seorang ustadz disana, namanya Husin Abdullah. Jadi beliau cerita kalau beliau pernah lama tinggal di Indonesia, di daerah Tanggerang gitu. Terus beliau mengatakan sekaligus berpesan epada saya seperti ini, “Sewaktu saya tinggal di Indonesia saya sangat bahagia karena setiap 10 meter saya pasti akan menemukan masjid untuk sholat, tetapi di negara ini sangat jauh berbeda. Di setiap kota mungkin cuma ada satu tempat untuk sholat berjamaah seperti disini. Bersyukurlah kamu akhi karena tinggal di Indonesia, kapanpun kamu mau kamu bisa untuk sholat di masjid. Maka jangan pernah sekalipun kamu tinggalkan sholat berjamaah di masjid akhi”

Kelalaian saya selama beberapa hari ini kembali mengingatkan saya akan pesan dari Ustadz Huasin Abdullah 2 tahun yang lalu. Ingat pesan beliau saya sangat merasa malu pada diri saya sendiri, disini masjid dekat banget dan cuma beberapa meter dari asrama tapi saya masih suka lalai. Sementara kondisi disana di satu kota paling cuma ada satu tempat untuk sholat berjamaah. Yuk ah mari teman-teman sekalian, kita saling mengingatkan dalam kebaikan. Selalu ingatkan kalau ada saudara-saudara kita yang lalai. Mari kita bangun kebaikan kolektif dengan sama-sama saling mengajak dan saling mengingatkan untuk senantiasa mengingat Allah agar kita tidak lalai. Mulai dari mana? yuk kita mulai dengan saling mengingatkan saudara-saudara kita se- Asrama Beastudi Etos tercinta. Jangan lupa juga selalu ingatkan saya untuk tidak lalai yaaaa😀

22 Juni 2012 pukul 0:09

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s