HIKMAH SURAT ADH-DHUHA

oleh Ahmad Fathy, Etoser Bandung 2010, T. Mesin ITB 2010

Saat membaca surat ini, terasa kental sekali nuansa sejarah Rasulullah saw. dalam duka mendalam yang beliau rasakan. Di usia dakwahnya, tahun sepuluh kenabian, paman yang menjadi tameng dan pemulus dakwah rasul di hadapan kaum quraisy, meninggal dunia. riwayat menyebutkan Abu Thalib wafat pada bulan Rajab. Dikalangan pembesar quraisy ia sangat disegani sebagai syeikh kaum, sehingga setelah wafatnya Abu Thalib, semakin leluasalah peluang untuk mendzolimi Rasul dan kaum mukminin.

Sekitar satu bulan setelah itu, tepatnya bulan Ramadhan, beberapa hari setelah sakit parahnya, Khadijah ra. istri Rasul wafat. Seorang pendamping yang setia memfasilitasi dakwah Rasul dengan seluruh jiwa dan hartanya. Dikatakan oleh Ibnu Hisyam, Khadijah ialah menteri kebenaran untuk Islam, sebagai pembesar hati Rasul dalam tiap masalah-masalah berat yang dihadapinya.

Tidaklah Rasul sangat bersedih karena kematian dua orang yang disayanginya, namun lebih karena terasa seolah semakin tertutupnya pintu dakwah. Rasul pun tidak pernah menyebut tahun kesepuluh sebagai tahun kesedihan. Istilah ‘amul huzni dipakai para periwayat sejarah untuk melambangkan kesedihan yang terjadi pada tahun tersebut. Kesedihan yang Rasul rasakan semakin besar saat tak kunjung datang wahyu dari Allah dalam waktu beberapa hari. Lalu berkatalah orang-orang musyrik “Dia (muhammad) telah ditinggalkan dan dibenci oleh Tuhannya.”

1. Demi waktu matahari sepenggalan naik, [2] dan demi malam apabila telah sunyi. [3] Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, [4] dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. [5] Dan kelak tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. [6] Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. [7] Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. [8] Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. [9] Adapaun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. [10] Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. [11] Dan terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).

Adh-Dhuha : 1-11

Turunnya surat ini menunjukkan kasih sayang Allah pada Rasul-Nya. Bertapa Allah meyakinkan pada Rasul bahwa ia tidak dimurkai atas musibah ini. “Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak (pula) benci.”  Allah ingin meyakinkan bahwa bukanlah manusia yang akan menjadi penolong dakwah ini, bukanlah dakwah ini menjadi terang atau redup karena buah kerja manusia. Ialah satu-satunya yang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak.

Di tengah musibah yang dihadapi Rasul dan kaum muslimin, muncul sebuah harapan, yang jelas dipandang, terang-benderang, nikmat terasa melalui ayat “dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan.” Bagaimana pun kedudukan saat ini, terpuruk, terperosok dalam sumur, tercabik-cabik, atau sedang diatas, berjaya, memimpin sekalipun. Allah menjanjikan Akhir yang lebih baik, jauh lebih baik bagi kaum muslimin. baik di dunia ataupun di akhirat. dan janji Allah takkan pernah meleset.

Di antara orang-orang yang beriman itu, ada yang bersikap benar menunaikan apa yang telah dijanjikannya kepada Allah swt untuk berjuang membela Islam, maka di antara mereka ada yang telah selesai menunaikan janjinya itu (lalu gugur syahid), dan di antaranya ada yang menunggu giliran : dan mereka pula tidak mengubah apa yang mereka janjikan itu sedikitpun.” Surah Al-Ahzab : 23

Kemenangan itu pasti datang, kenikmatan akan selalu Allah berikan kepada hambanya yang bersabar. Kenikmatan yang membuat hati tentram, walau fisiknya sedang tertimpa berbagai masalah, kenikmatan yang membuat tiap orang tak merasa masalah ialah faktor ketidakberdayaan, namun peluang untuk melejitkan amalan, tak kurang dari itu, kenikamatan yang membuat kaum muslimin puas, motivasi untuk terus naik.

Maka lihatlah apa yang telah Allah berikan dulu, ingatlah segala karunia-Nya.
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”
Tidaklah Allah menjadikan Muhammad yatim, namun Ia memberkahinya dengan kasih sayang Ibu susuan, kakek, hingga pamannya.
Tidaklah Allah meninggalkan Muhammad dalam kebingungannya menghadapi persoalan kejahiliyahan masyarakat Makkah, hingga mengasingkan diri dalam gua, kecuali Allah memberikannya petunjuk yang besar berupa Al-Qur’an.
Dan tidaklah Allah membiarkan Muhammad dalam kondisi serba kekurangan, bukan sebatas soal harta dan kedudukan, kekurangan terhadap kenyamanan dalam hidup,  kecuali Allah turunkan hakikat sabar dan syukur.
Berikan masalah lainnya, kecuali Allah pasti telah/akan menjawabnya dengan indah.

Ketetapan Ilahi bahwa dalam tiap episode dakwah, kapanpun, tak akan pernah surut dari  berbagai gangguan dan penyiksaan, dalam bentuk-bentuk yang beragam. Kadang sakit itu terasa akibat ucapat dan perbuatan yang menyerang dakwah ini, terasa semakin berat untuk memanggulnya. Maka bersabarnya karena lagi-lagi hal itu telah ada solusinya

[97] Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, [98] maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), [99] dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

Al-Hijr : 97-99

Tidak ada jalan untuk takut tak berdaya atas pergolakan yang terjadi dalam perjuangan,  atau meratapi kesedihan, atau merasa sakit sampai tak mau bergerak. Jika satu saat kita lemah, maka rehatlah sebentar, perkuat barisan, lalu segera balik meluncur, bergerak. bergerak. bergerak.

Hikmah lainnya dalam surat ini ialah, bahwa musibah adalah penegur atas kesalahan yang telah diperbuat. Terasa atau tidak manusia seringkali salah bertingkah. Saat diberi nikmat lebih ia lupa berbagi, saat diberi kepercayaan memimpin ia fokus pada pengembangan diri, tak mampu melihat persoalan yang harus dihadapi, saat mampu menorehkan berbagai karya ia enggan rendah hati. Maka Allah menguji, pantaskah dengan itu ia menjadi seorang da’i.

Bersabarlah atas semua cobaan dan bersyukur atas segala kenikmatan, semoga Allah senantiasa menguatkan langkah kita dalam bergerak. Sekali lagi, Bergerak.

Referensi :
Ringkasan Tafsif Ibnu Katsir – Muhammad Nasib Ar-Rifa’i
Sirah Nabawiyyah – Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy

reblogged from http://ahmadfathy03.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s