Kecerdasan Utusan Islam dalam Berdialog dengan Raja

Alkisah.

Ini masih tentang kaum muslimin yang meminta perlindungan ke raja Habasyah, raja Najasyi. Ini masih tentang bagaimana perhelatan hati yang mendalam untuk menerima kaum muslimin. Ini masih tentang perjuangan kaum muslimin. Pada masa itu. Masa dimana Allah swt. memerintahkan kepada Rasulullah saw. dan umatnya untuk menyeru kebaikan dan mereka melaksanakannya.

Ini tentang perhelatan keyakinan. Namun bukan untuk merusak. Hanya ingin menjadi perantara kebaikan. Ini hanya persoalan menerima kebaikan atau menolaknya. Ini hanya persoalan meninggalkan keburukan atau menghiraukannya.

Mengajak orang-orang Habasyah untuk masuk Islam bukanlah hal yang sulit. Bukan hanya karena latar belakang mereka yang kebanyakan berstatus sebagai budak lalu Islam menghapus itu semua. Bukan hanya karena itu. Kalaulah hanya itu tentu seorang raja takkan terlena dengannya lantaran beliau bukanlah budak. Namun apa gerangan yang menggerakkan hatinya? Karena ia mau jujur dengan hatinya. Karena ia seorang Nasrani yang mau jujur dengan pengetahuan yang berasal dari alkitabnya.

Namun apalah daya. Rupanya beberapa dari merekapun ada yang belum membuka hati. Ajakan perdebatan acap kali mendatangi. Kali ini Amr bin ‘Ash dan kawan-kawannya yang rela meluangkan waktu untuk berdebat dengan kaum muslimin.

Adalah cinta, kasih sayang, dan rasa percaya yang dimiliki oleh Muslim di Habasyah. Adalah prinsip syura yang senantiasa ditaati oleh Muslim di Habasyah. Adalah menghargai kemampuan dan kompetensi menjadi hal utama di kalangan Muslim di Habasyah. Maka dari ketiga hal tersebut menyepakati bahwa Ja’far yang akan menemui Amr bin ‘Ash dan kawan-kawannya.

Pada saat itu Ja’far hanya menjelaskan empat poin yang cukup membuat mata mereka membelalak, yaitu

  1. Menjelaskan kejelekan jahiliah sesuai fakta yang ada hingga mereka jijik mendengarnya lantaran hal itu sudah menjadi “tiang kokoh” mereka dan Ja’far berhasil merobohkannya.
  2. Menjelaskan prinsip-prinsip dan dasar-dasar Islam secara umum dengan padat dan jelas serta sesuai dengan akal fikir sehingga mudah merasuk ke hati dan akal mereka.
  3. Menjelaskan kedzaliman apa saja ketika mereka masih berada di bawah naungan agama mereka.
  4. Menyampaikan pujian kepada raja sesuai dengan porsinya dan tanpa berlebihan.

Perdebatan ini perdebatan yang cerdas. Dari empat poin yang disampaikan Ja’far, tidak ada satupun titik-titik perselisihan Nasrani dan Islam yang ia ungkapkan. Justru yang disebutkan adalah titik-titik pertemuan antara Nasrani dan Islam.

Seorang utusan yang berhasil membuat seorang raja menangis secara jujur karena sadar adalah seorang yang berhasil menjalankan tugasnya. Dialah Ja’far seorang diplomat Muslim yang cerdas.

Materi halaqah Shubuh asrama putri Beastudi Etos Bandung ini diambil dari buku Manhaj Haraki.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s