Gaung Emansipasi Wanita Berdasarkan Dimensi Barat dan Lokal

Tidak banyak yang tahu bahwasanya kebebasan yang dirasakan para wanita hari ini adalah buah dari pemikiran pasca Revolusi Perancis abad 18 dengan kehadiran aliran feminisme. Menurut June Hannam (2007:22) didalam buku Feminism, feminisme mengandung tiga arti yaitu:

  1. A recognition of an imbalance of power between the sexes, with women in a subordinate role to men;
  2. A belief that woman condition is social constructed and therefore can be changed;
  3. An emphasis on female autonomy.

Ketiga pengertian itu pada periode selanjutnya menjadi dasar pengkotak-kotakan terhadap perkembangan pemikiran sosialis feminis dan radikal feminis. Pengertian pertama dan ketiga yang membahas pengakuan kesetaraan dan otonomi wanita lebih merujuk kepada radikal feminis, sedangkan pengertian kedua tentang woman sosial condition mengantarkan pada perkembangan selanjutnya sosialis feminis.

Feminisme yang berkembang pasca revolusi Prancis menjadi cikal bakal dalam mengubah pemikiran kaum wanita yang sebelumnya hanya terkungkung pada marginal zone saja. Mereka mulai melakukan pergerakan ditahun 1960-1970 melawan segala bentuk penindasan dan diskriminasi gender. Wadah tulisan menjadi solusi terbaik yang diambil oleh para wanita. Autobiografi, memoir, surat, dan catatan-catatan sejarah dikumpulkan demi mengaktualisasikan keinginan mereka dalam hal membebaskan keterbatasan wanita.

Anggapan Jepang bahwa wanita yang hanya sekadar orang yang mereproduksi, mengurus, serta merawat anak, diperangi lewat 3 gelombang feminisme. Asumsinya benar namun tidak sebatas di ranah itu saja bukan? Jika memang begitu dasar pengkultusannya dan hari ini masih sama seperti itu, maka wanita ada hanya sebagai objek pemuas nafsu belaka yang diperlakukan kaum lelaki seenaknya, ibarat kata ‘habis manis, sepah dibuang’.

Realisasi dimensi pendidikan dan politik yang coba digelorakan kaum feminis abad lampau pada hari ini sudah tentu harus disyukuri dan menjadi renungan bersama, khususnya bagi kaum wanita. Oposisi kelas dan kedudukan peran yang dibeda-bedakan oleh mayoritas kaum maskulin sudah bukan lagi menjadi masalah strategis yang perlu dikhawatirkan.

Membahas aliran feminisme barat tentu tidak bisa dipisahkan dari sejarah lokal yang mencatat tentang sejarah kebangkitan gerakan kaum wanita yang dipioniri oleh R.A Kartini. Putri bangsawan ini telah melalui sepak terjang yang berat sebelum akhirnya menemukan kecerahan social-life wanita pribumi hari ini. Belum sempat meneruskan studinya di ELS (Europese Lagere School) saat usia 12 tahun karena alibi sudah bisa dipingit, tak menjadikan Kartini pantang menyerah dalam mengejar keintelekan.

Berkat penguasaan berbahasa Belanda yang dimilikinya, rumah menjadi sarana dalam mengasah tulisannya yang menjadi pengantar dalam berbahasa untuk berkomunikasi dengan teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda, salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Produk Sekolah Kartini tahun 1918 yang dibangun oleh keluarga Van Deventer menjadi warisan berharga Kartini untuk mengingat perjuangannya dalam menyejahterakan kehidupan wanita pribumi. Begitupun dengan Buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang diterbitkan tahun 1922 oleh Balai Pustaka dalam bahasa Melayu, menjadi bukti keseriusan Kartini dalam mendukung kebeasan wanita dari segi kebebasan mengemukakan pendapat. Output nyata yang banyak dihasilkan oleh Kartini menjadi sesuatu yang menarik perhatian masyarakat Belanda, dan akhirnya pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa. Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, antara lain W.R. Soepratman yang menciptakan lagu berjudul Ibu Kita Kartini.

Baik Teori Feminisme Barat abad 18 dan Emansipasi Wanita Lokal RA Kartini di abad 19 sama-sama memberikan perspektif bahwa wanita tidak bisa dianggap lemah, wanita bukan sekedar makhluk yang bisa disandingkan dengan eksistensi hewan, wanita punya hak dan hak itu perlu ditegakan. Teori Feminisme yang lebih dulu berkembang menjadi inspirasi Kartini untuk sama-sama bergerak lebih global untuk membumikan hak-hak yang dimiliki kaum wanita. Pelajaran juga bagi kita bahwa mempelopori sesuatu yang harus ditegakan akan mampu memberikan kedamaian bagi umat secara menyeluruh. Maka dengan adanya kebebasan yang dimiliki kaum wanita dalam segala bidang hari ini, harus menjadikan wanita banyak belajar tentang sikap, perilaku dan karater yang tetap berlandaskan etika.

Wanita yang sudah memiliki kehormatan tidak pantas untuk menurunkan kehormatannya dengan alasan apapun juga. Kesetaraan dengan kaum maskulin hari ini akan selamanya ada. Diskriminasi pada abad selanjutnya bukan membicarkan tentang pemenuhan hak yang belum dicapai, namun pemenuhan kewajiban dan landasan etika yang mulai memudar. Wahai para wanita, tetaplah cantik dengan cara intelek ! Junjung tinggi kehormatanmu kini dan nanti, karena para feminis barat dan Kartini akan bisa tenang di dunia sana jika gaung emansipasi wanita tetap terdengar dan terus ditegakan!

By: Retta Farah P. / E-Band 2016

REFERENSI:

SUMBER GAMBAR :

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s