Hari Buruh: Ayo Diskusi Tentang Unjuk Rasa, Perjuangan, dan Perkembangan Diri

Pagi tadi, hampir 150.000 buruh berunjuk rasa di depan Istana Negara, menuntut tentang tiga isu utama yang memang telah lama mereka perjuangkan. Tidak hanya di Istana Negara, isu-isu tersebut juga akan diperjuangkan bersama-sama dengan aksi serupa, yang serentak digelar di 32 provinsi seluruh Indonesia.

“Tiga isu yang akan diangkat itu disingkat jadi hosjatum, hapus outsourcing dan magang, jaminan sosial, dan tolak upah murah. Hosjatum serentak diangkat di seluruh wilayah Indonesia,” kata Said Iqbal, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), seperti yang dilansir oleh Kompas.com, hari ini.

Menarik, ya?

Tak lelah-lelah rasanya setiap tahun, di tanggal yang sama, para buruh bersatu bersama berunjuk rasa memperjuangkan tuntutan mereka. Kita semua seperti sudah terbiasa dengan akan adanya unjuk rasa di hari buruh. Yet, saya baru sadar akan relita itu pagi ini.

“Oh, ini hari buruh kan ya? Jangan lewat Gasibu berarti, pasti bakal macet karena unjuk rasa,” kata teman saya pagi hari tadi.

“Loh, ada ya?” tanya saya.

“Pasti ada kan, tiap tahun juga ada.”

Heck, selama ini saya cuma bahagia menjalani hari buruh karena hari itu libur nasional. Segitu apatisnya saya terhadap negara ini dan masyarakatnya, 19 kali saya melewati hari buruh dan baru sekarang saya sadar akan perjuangan tak henti dari working-class society ini. Perlu banyak belajar nih, supaya bisa jadi pemuda kontributif kayak di hashtag.

Anyway, balik ke topik.

Menurut Stephen D. Brookfield and Stephen Preskill, dalam buku mereka Discussion as a Way of Teaching, menyebutkan bahwa diskusi dapat memberikan banyak manfaat bagi pesertanya, diantaranya dapat membantu peserta mengenali banyak perspektif, menghormati perbedaan, dan juga mendorong peserta untuk aktif belajar dan terhubung dengan topik diskusi.

Karena itu, saya ingin ajak kalian para pembaca yang budiman, untuk berdiskusi tentang topik ini. Apa menurut kalian tindakan para buruh ini sudah sesuai? Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu mereka? Bagaimana cara kita (atau kami) bisa jadi kontributif? Ada pendapat tentang tuntutan mereka yang menurut sebagian orang tidak realistis?

Sebagai pembuka bahasan, saya kutip disini salah satu komentar dari sebuah posting di Seword.com.

“Sewaktu masih jadi anak kuliahan, saya ikut organisasi mahasiswa di luar kampus, sok-sokan jadi aktivis (gagal). Lepas dari bangku kuliah, saya kerja di perusahaan outsource. Setiap May Day saya pasti ikut turun ke jalan, menyuarakan isi hati. Sampai pada akhirnya, saya sama sekali berhenti dari ikut demo-demo dan aksi-aksi. Karena apa?

Menuntut itu melelahkan. Kalau mau taraf hidup di atas rata-rata, ya harus kerja keras, jangan suka menuntut. Kembangkan skill, kembangkan kemampuan dan usahakan kemauan. Kemampuan menulis ya menulis, kemauan jualan ya jualan, bisanya memulung ya jadilah pemulung yang baik, apa pun lah.

Karena saya sebal sama kawan-kawan saya sesama aktivis (katanya) yang menurut saya, mereka gagal total. Masih suka minta transferan buat makan, minta diisikan pulsa. Mereka suka turun ke jalan, menyuarakan aspirasi rakyat, buruh, petani, nelayan tapi mereka sendiri malas dan tidak becus mengurus diri sendiri. Belum lagi jam karet yang dibudayakan, sehingga rapat konsolidasi, kalau jadwalnya jam 10:00 maka sudah pasti akan mulai 2-3 jam kemudian. Bangsa ini memang terkenal santai dan malas. Kalau yang ga malas dan ga santai, jangan marah, ya.

Kesimpulannya, jangan setiap saat banyak menuntut, maksimalkan kemampuan dan kemauan diri sendiri. Jangan malas. Kelak di akhirat, kita akan balik dituntut. Hehe.”

Gimana menurut kalian? Sampaikan di komentar ya 🙂

Sumber gambar: http://www.markijar.com/2015/10/sejarah-hari-buruh-dunia-dan-indonesia.html

Advertisements

2 Replies to “Hari Buruh: Ayo Diskusi Tentang Unjuk Rasa, Perjuangan, dan Perkembangan Diri”

  1. Jangan sampai kita menunggu perubahan, tapi dari diri kita sendiri ga ada upaya untuk berubah. Jangan hanya menuntut pada orang lain karena benar kata tulisan di atas ‘menuntut itu melelahkan’. Kita tidak bisa memaksa ada perubahan, tapi kita bisa mengarahkan diri agar perubahan itu terjadi, salah satunya dengan terus mengembangkan diri dan banyak berkontribusi.

    1. Mantap, Nissa!
      Seperti kata Mahatma Gandhi, “You have to be the change yo wish to see in the world.” Jadi kita harus jadi perubahan itu sendiri, dan menurut kamu kita bisa berubah dengan terus berkembang dan berkontribusi, benar?
      Kontribusi seperti apa nih menurut kamu yang bisa kita lakukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s